Di tengah gempuran informasi dari berbagai arah yang begitu mudah saat ini, yang menembus berbagai batasan negara, membuat pelestarian budaya asli menjadi hal tersulit yang dihadapi banyak bangsa saat ini. Salah satu ‘ancaman’ paling serius datang dari budaya pop, yang sangat mudah dan cepat menjalar dari negara tertentu lalu mewabah ke seluruh dunia. K-pop adalah salah satu contohnya. Sudut pandang inilah yang kurang lebih ditonjolkan sebagai benang merah Pagelaran Sabang Merauke The Indonesian Broadway, yang digelar di JIEXPO Theatre Kemayoran, Jakarta pada 17 dan 18 Agustus 2024 lalu.
Pertunjukan dibuka oleh sekelompok generasi Z yang diperankan oleh Zahara Christie bersama teman-temannya, Sophie Susilo, Ameera Nadia, Fikri Theo, Robby Fierly, Calvin Adrianto dan Amanda Sekar. Sebagian dari mereka menari mengikuti entakan lagu modern yang kental akan kedinamisan musik K-Pop.
‘Konflik’ lantas dibangun dari sini, untuk menunjukkan betapa generasi saat ini semakin jauh dari edukasi untuk mengetahui dan mencintai budaya dari negaranya sendiri. Tapi di panggung, sutradara Rusmedie Agus tidak terlihat memaksakan pesan itu.
Lewat dua sosok tokoh Punakawan yang diperankan Indra Bekti sebagai Bagong bersama Risang Janur Wendo sebagai Petruk, pertunjukan dibuat cair lewat cecaran dialog jenaka yang memperlihatkan betapa repotnya mereka memberi pemahaman kepada sekelompok Gen Z tadi.
Lantas divisualisasikan, keduanya mengawal para generasi belia masa depan bangsa tadi, berkeliling Nusantara untuk memberikan edukasi mengenai seni budaya Indonesia dan cerita kepahlawanan dari setiap daerah dari masa lampau.
Perjalanan budaya dimulai dari Aceh lewat penampilan Nino Prabowo dan Yuyun Arfah, yang membawakan lagu “Kutidhieng dan Ila Hotsa”, merepresentasikan pahlawan Aceh, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Penampilan mereka begitu memukau, menciptakan suasana yang syahdu dan menghipnotis seluruh penonton.